Sabtu, 28 Januari 2012

Saat senyuman tak mampu berbohong
Saat mata tak mampu membendung air mata
Saat tubuh ku mulai rapuh
Saat itu aku merasa sendiri
Andai kebahagiaan bisa aku beli
Pasti aku sudah memilikinya
Kebahagiaan ku
Saat aku menitikkan air mata,
Dan mereka berkata
Aku mengerti kamu, seutuhnya... ♥♥♥

♥ Wanita dengan kekuatannya, ia menjadi sangat utama.
Dibahunya, ia mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

♥ Wanita diberi kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya,
walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi itu apabila ia telah membesar.

♥ Wanita diberi keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan,
pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

♥ Wanita diberi kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.

♥ Wanita diberi perasaan yang peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak-anak yang mengantuk menahan lelap.Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didakap dengan lembut olehnya.

♥ Wanita diberi kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

♥ Wanita diberi kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

♥ Dan wanita diberi air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya.
Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat ia gunakan bila waktu pun ia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah "air mata kehidupan."

Semoga bermanfaat

Selasa, 03 Januari 2012

Cara mengganti tampilan Facebook baru menjadi lama


Hai teman2 Facebooker, kalau kemarin saya sudah mengajak teman2 untuk mengganti Tampilan Facebook ke Lama menjadi  Tampilan baru. 
Kali ini saya akan memberikan cara untuk mengembalikannya menjadi Tampilan yang Lama, ya mungkin saja ternyata ada salah satu tema2 yang lebih menyukai Tampilan Facebook yang lama.

Langsung saja ya teman2......
 
Berikut Cara mengganti tampilan Facebook baru menjadi lama seperti ini sobat:

Catatan: Saya menggunakan facebook dalam bahasa indonesia, yang menggunakan bahasa lain silakan di translate.

1. Klik "Akun"
2. Pilih dan klik "Pengaturan Akun"
3. Pada samping tulisan "Nonaktifkan Akun" terdapat tulisan "tutup", klik "tutup". Tenang nanti bisa di aktifkan lagi kok.

4. Isi form yang disediakan. Alasan keluar (Wajib diisi): Diisi dengan "Ini hanya sementara. Saya akan kembali".

5. Klik "Konfirmasi"
6. Masukkan password facebook sobat sendiri, jangan facebooknya "some one", hehe
7. Biasanya akan muncul gambar untuk mencegah spam, masukkan tulisan yang
tertulis di gambar. Apabila sudah benar maka account facebook sobat
telah berhasil ditutup.

8. Untuk mengembalikan silakan langsung login lagi ke facebook seperti biasa.
 
 
Bagaimana.....
Mudah bukan, selamat mencoba dan semoga bermandaat...

Salam Hangat

Cara Paling Mudah dan Cepat untuk Mengganti Tampilan Facebook

Buat temen2 Facebooker yang senang atau nonstop bermain dengan Facebook, pasti tau jika sekarang ada yang baru dengan Tampilan Facebook, keren, menarik dan unik..... 
Ini contoh Tampilan Facebook yang baru, klik http://www.facebook.com/profile.php?id=100000069776390  (Menarik bukan????)

Disini saya akan sedikit membagikan gimana cara untuk bisa merubah Tampilan Facebook seperti yang sudah saya coba sendiri,klik  http://www.facebook.com/profile.php?id=100000069776390

Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat Tampilan Facebook terlihat lebih menarik, namun banyak pula yang tak berhasil dengan cara2 yang ada.
Sehingga berbekal dengan pengalaman saya yang sedikit merasa kesulitan dan tidak berhasil hingga berhari2 maka saya ingin membagikan cara yang lebih mudah, cepat dan singkat.

Hanya dalam beberapa menit, dan beberapa langkah saja pasti teman2 Facebookers sudah bisa melihat hasilnya dan sangat memuaskan..
Langsung saja ya teman2 Facebooker, berikut Cara Paling Mudah dan Cepat untuk Mengganti Tampilan Facebook :
  1. buka account Facebook kita terlebih dahulu donk ya....
  2. lalu selanjutnya klik http://www.facebook.com/about/timeline 
  3. Langsung saja klik "Kronologis" pada bagian bawah kiri saat kita turun / naikan scrool mouse.
  4. Lihat khan perubahannya Tampilan Baru Facebook teman2. Selanjutnya teman2 bisa langsung merubah apa yang menjadi "Keunggulan" dari Tampilan Baru Facebook, disini ada 3 hal yang bisa dirubah, yaitu:
  • Sampul , berupa Ruang Terbuka yang sangat Lebar dan teman2 Facebooker bisa memberikan Gambar yang paling unik or menarik (menurut teman2 Facebookers tentunya ya hehehehe) karena inilah hal pertama yang diliat orang saat mengunjungi Kronologi Facebook teman2.

  • Kisah Anda, pada bagian ini  teman2 bisa menyunting atau mengatur kembali ttg Info dan  aktivitas kalian atau lebih terkenalnya (Tampilan Facebook Lama) Update Status atw Profil teman2

  • Aplikasi, pada bagian ini menunjukkan tentang Aplikasi2 yang kita ikuti....
Hanya begitu saja kok caranya, mudah kan?????
Dan jangan kwatir, kalau teman2 ingin merubah kembali Tampilan Facebook ke Layout yang lama bisa kok, ikuti tulisan saya selanjutnya ya.....
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat informasi ini...

Salam Facebookers,


Selasa, 20 Desember 2011

Goresan Tintaku utk Suami T'CinTa

Sudah hampir memasuki usia 4thn pernikahan kita,
banyak hal yang terjadi antara kita....
aku,
sebagai istri kamu, 
mungkin tidak banyak hal baik yang aku lakukan untukmu...
tidak banyak hal yang aku korbankan untuk kamu....
tidak banyak hal yang aku sisakan Kenangan Indah antara kita,
justru mungkin aku banyak menorehkan luka dihati kamu....

Suamiku,
aku sangat sadar akan ketidaksempurnaan yang ada pada diriku
aku sadar bahwa aku bukanlah seorang wanita yang kamu idam2kan...
aku sadar bahwa aku ini hanyalah seonggok sampah yang pantas
untuk kamu injak injak saja, ....
Suamiku,
ssungguhnya masih begitu banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu...
masih banyak hal yang ingin aku habiskan denganmu...
namun, 
rasanya kesempatan itu sudah tidak ada lagi....

Aku hanya bisa menderaikan airmata ini,
akupun tak tau apa makna dari semunya
namun satu hal yang ingin aku beritau padamu adalah
aku semakin sayang padamu...
dan aku tak menyadari itu...
ingin rasanya aku memupuk perasaan ini...
tapi takmungkin bila itu aku lakukan seorangdiri...

Sayangku,
ssungguhnya sakit kurasakan...
hati, badan, pikiran dan semua yang ada padaku
semuanya terasa sakit dan sangat melelahkan...
dan jika kamu tau, 
ssungguhnya aku tak sanggup untuk menjalani semua ini
ingin aku tinggalkan dunia ini...
namun,
TIDAK!!!!!!!!!!!!!
aku harus melihat kamu bahagia...
sekalipun itu tidak bersamaku
aku harus memastikan bahwa kamu memang
benar2 bahagia dengan pilihanmu yang baru....
Suamiku,
kamu tau, 
malam ini....
begitu banyak airmata yang aku tumpahkan 
untuk menulis Goresan Tintaku ini buat dirimu...
aku hanya takut,
jika suatu saat aku tidak bisa mencurahkan isi hatiku ini
padamu.....

Suamiku,
maafkanlah aku....
mungkin,
ketika kamu membaca catatan ini
aku sudah tidak bersamamu lagi...
atau mungkin...
justru aku sudah pergi meninggalkan dunia ini...
satu hal yang aku ingin kamu selalu tau,
aku rela mengorbankan perasaan ini sekalipun itu sangat menyakitkan
asalkan kamu BAHAGIA....
sungguh, 
trenyata aku sangat MENYAYANGI dan MENCINTAI kamu...

jika melihat kebelakang,
memang begitu banyak pertengakaran yang terjadi antara kita,
banyak hal yang membuat kita saling menyakiti satu sama lain....
namun kini,
aku benar2 menyadari bahwa ssungguhnya 
aku sangat MENYAYANGI kamu dan aku TAKINGIN KEHILANGAN kamu

Suamiku,
aku sayang kamu...
selalu dan selamanya....

Goresanku untukmu Suamiku,
YY










Kisah Inspiratif: "AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA"


Sapaan seorang sahabat,

Mungkin Anda akan mencapku sebagai seorang romo yang terlalu cengeng, tapi aku tidak mau menyembunyikan gejolak perasaan kemanusiaanku ketika mencoba membaca dan menterjemahkan kisah ini dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Beberapa kali aku harus berhenti sejenak, merenung bahkan tak terasa rasa sedih menyelimuti seluruh tubuhku atas sentuhan kata-kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat penuh makna dalam kisah ini. 

Semoga saja kisah ini menjadi bahan pembelajaran bagi teman-teman yang baik sedang merencankan untuk menikah, yang telah hidup dalam pernikahan, tapi terlebih untuk teman-teman yang mengalami goncangan dalam hidup perkawinan mereka saat ini. Percayalah…Tuhan sedang menegur dan mengingatkanmu akan keutuhan dan kekudusan pernikahan lewat kisah yang sedang Anda baca ini.


AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA

Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.

Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?

Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuang choptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.

Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”

Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku  harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.

Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah  kita rencanakan, demikian kata Jane.

Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.

Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku  menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.

Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.

Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.

Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan  walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…

----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!

Jika engkau tidak ingin membagi cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.

Akan tetapi, kita engkau mau membagi cerita ini kepada sahabat kenalanmu, maka satu hal yang pasti bahwa Tuhan sedang menggunakanmu untuk  menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sekarang mengalami masalah dalam pernikahan mereka.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat yang menikah maupun
yang berencana untuk menikah,

***Duc in Altum***

share from. Catatan FaceBook Kisah Inspiratif Gereja Katholik







Sabtu, 17 Desember 2011

- PeNanT!aNkU -


Penantianku sepanjang waktu
Hingga malam tiba......
tak dapat mata ini t'pejam...
hanya slalu mmandangi handphoneku...


untuk apa,
untuk menunggu panggilan masuk darimu..
hingga mata ini mengeluarkan airmata...
yang mungkin tidak akan pernah kamu ketahui...

sungguh,
bgitu pedih kurasakan dalam hati ini...
ketika aku harus slalu menanti...
menunggu, dan mengharapkan
engkau kembali....
namun,
semua itu....
hanyalah sebuah angan semu...
yang rasanya begitu sulit untuk aku mewujudkannya...

aku rindu,
aku kangen,
aku ingin kamu...
namun,
apa yang bisa aku lakukan...
hanya kelamnya malam
yang slalu menemaniku...
hanya dinginnya malam,
yang slalu menyelimuti tidurku...
hanya bayang2mu,
yang slalu mengobati rinduku...

airmata ini,
rasanya tak mampu kubendung lagi
untuk menhan semua rasa dihati
rasa yang ingin kudapat darimu...
rasa yang slalu kuimpikan darimu....

aku mnyayangimu...
bahkan sangat menyayangimu...

dari aku... 
...........................................
G0reSaNQ
VMM