SI buah hati masih bayi, tapi tiba-tiba
suami harus berada berkilo-kilo meter hingga bermil-mil jauhnya, untuk
urusan pekerjaan atau studi. Waduh, terbayang repotnya mengurus si kecil
sendirian.
Tenang, asal tahu triknya, tak masalah
kok. Apalagi kalau kedekatan si ayah dan anak tetap tak terganggu.
Two thumbs up!
Menurut
Francisca, M. Psi, Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas
Indonesia (LPTUI), kunci keberhasilan kala merawat bayi tanpa suami
adalah komunikasi! Dikatakannya, komunikasi sebagai solusi kesepakatan
dalam menanamkan kepedulian antara istri dan suami dalam mengasuh anak
agar kelak bila terjadi masalah, orangtua tidak saling menyalahkan.
Lantas, seperti apa komunikasi itu?
Berbicaralah kepada suami
-
Dalam urusan mengasuh anak, istri-suami perlu urun rembuk mengenai apa
saja yang diperlukan bayi, umpamanya, siapakah yang membantu istri dalam
merawat bayi, apalagi bila buah hati adalah bayi pertama dalam
keluarga. Apakah kelak sang istri dibantu oleh orangtua, mertua, atau
pengasuh, perlu didiskusikan secara matang oleh pasangan.
- Sebaiknya,
Moms memberitahukan kondisi dan perkembangan bayi secara rutin kepada suami. Begitu pula
Dads harus melakukan hal yang sama, mencari tahu kondisi buah hati. Dengan demikian,
Dads tetap dekat dengan anak. Dan ketika bertemu anaknya kelak,
Dads tidak akan merasa asing.
- Bila terjadi sesuatu pada bayi,
Moms tetap memberitahukan kepada suami. Nah, untuk menghindari suasana kalang kabut antara istri-suami, sebaiknya
Moms membekali
diri dengan pengetahuan, cara merawat bayi, masalah-masalah yang biasa
terjadi pada bayi, tumbuh kembang bayi, dan sebagainya. Sehingga ketika
bayi sakit, contohnya,
Moms tidak gampang panik dan cepat mengambil tindakan ketika menghadapi hal-hal di luar kebiasaan.
Selain
itu, simpan pula kontak tenaga ahli, seperti dokter, yang membantu
menangani masalah yang lebih berat lagi atau memberikan informasi
mengenai kondisi bayi. Hal ini diupayakan agar istri tidak
sebentar-sebentar menelepon suami yang dapat menganggu kelancaran
pekerjaan atau studi. Pasalnya, bila ‘terkurung’ rasa panik akan
menyulitkan
Moms dalam mengambil keputusan.
Ajak si kecil berkomunikasi
- Meski terhalang jarak,
Dads tetap bisa menjalin komunikasi dengan bayi. Ambil contoh, bertelepon.
Dads bisa
berbicara atau menyanyikan lagu bagi buah hatinya. Nah, bayi cenderung
tertarik pada suara manusia. Sebagai responnya, dia akan mengeluarkan
suara-suara sebagai usaha awal berkomunikasi. Nah,
Moms juga bisa merekam suara
Dads lalu memperdengarkannya di lain kesemparan pada bayi sehingga bayi tetap akrab dengan suara ayahnya.
Demikian pula sebaliknya,
Moms dapat
merekam perkembangan bayi lewat video kamera dan mengirimkannya kepada
suami agar ia tetap familiar dengan setiap perkembangan buah hatinya.
-
Selain pendengaran, komunikasi bisa pula dilakukan lewat indera
lainnya, misalnya penglihatan. Pasanglah foto ayahnya dalam kamar bayi.
Ajaklah si bayi berbicara sembari memandangi foto ayahnya.
Ketika
Dads kembali dari tugas atau studi, lakukanlah
quality time bersama bayi, seperti menggendong, menatap, mengajak bicara, bermain, dan sebagainya. Inilah momen
bonding yang
kuat melalui kontak fisik. Ya! Bayi akan merasakan sentuhan, bau,
suara, dan melihat figur Ayah secara langsung sehingga lebih akrab.
Tak sungkan meminta bantuan pihak lain
Karena
belum berpengalaman, biasanya ibu baru masih ragu saat menangani
masalah, misalnya saat bayi sakit. Karena itu, dia memerlukan pihak yang
membantu, menenangkan situasi, dan menentukan langkah yang dapat
dilakukan segera. Bantuan bisa datang dari orangtua, mertua, saudara,
sahabat, teman, atau tenaga medis.
(Mom& Kiddie//ftr)